Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

22 Mei 2010

BENARKAH TUHAN ITU ADA...???


Akal Mencari Tuhan


“Tuhan itu tidak ada. Kalau memang Tuhan itu ada, tentu Dia bisa dilihat....”
Sebuah pernyataan komplit dengan alasannya yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang tak memiliki iman. Pernyataan ini tidak hanya berasal dari luar Islam, orang-orang Islam yang (mungkin) memiliki kadar keimanan yang lemah juga sering melontarkan pernyataan serupa.

Masih dengan alibi klasik “Allah tidak kelihatan....” banyak manusia yang berkreasi “menciptakan” Tuhan-Tuhan mereka sendiri, mereka mem-personifikasi-kan Tuhan, mereka menjadikan benda-benda sebagai Tuhan. Karena “tidak bisa dilihat”, mereka mengatakan Allah tidak rasional, tidak sesuai nalar dan sebagainya. Akan tetapi manusia yang “menuhankan” nalar dan pikiran itu malah berbuat sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal sehat.

Mereka yang menganggap Allah SWT tidak rasional, berusaha membuat Tuhan-tuhan yang berwujud yang mereka anggap lebih rasional. Tetapi mereka tidak sadar bahwa sesungguhnya tindakkan mereka itulah yang tidak rasional, bagaimana mungkin ada Tuhan yang diciptakan oleh hamba-Nya, bahkan sang hamba yang harus menjaga, merawat dan melindungi Tuhan mereka. Bahkan Tuhan-tuhan bikinan mereka itu tidak mampu sekedar mengusir seekor lalat yang menghinggapi-Nya. Sungguh sangat tidak masuk akal....
*******

Adapun mengenai pertanyaan: Kalau Allah Itu ada, mengapa Dia tidak terlihat...?
Jawabannya adalah: karena Allah itu “Laysa kamislihi syai-un” Allah tidak bisa diumpamakan dengan sesuatu apapun, karena Dia meliputi sekalian alam. Allah yang tidak terlihat bukan berarti Dia tidak ada....

Berikut ini adalah sebuah kisah yang meng-analogi-kan bahwa sesuatu yang tidak terlihat itu bukan berarti tidak ada;

Alkisah dalam sebuah diskusi seorang Profesor Atheis dengan beberapa siswa Madrasah.

Sang Profesor memulai membuka percakapan : “Zaman sekarang ini kalian tidak perlu lagi percaya kepada Tuhan, Tuhan itu tidak ada. Kalau Tuhan itu ada seharusnya Dia bisa dilihat. Sebaiknya kalian percaya sama saya saja, saya ini seorang profesor yang hebat, saya bisa dilihat dan saya juga telah berhasil menemukan dan menciptakan alat-alat berteknologi canggih yang bisa menyenangkan kalian...”

Dengan nada jahil, salah seorang siswa Madrasah itu berteriak : “Teman-temanku.. zaman sekarang ini kalian jangan percaya pada profesor itu, Profesor tidak punya otak, kalau memang dia punya otak tentu otaknya bisa kita lihat. Profesor itu juga tidak mempunyai pikiran, kalau memang dia punya pikiran tentu pikirannya bisa kita lihat............ setuju tidak......????”
“setujuuuu.......!!!” serempak siswa-siswa yang lainnya berteriak.

Sang profesor tidak mau kalah “kalian memang tidak bisa melihat otak dan pikiran saya, tapi lihatlah teknologi-teknologi canggih yang saya ciptakan, itu semua adalah hasil dari pemikiran otak saya...”

Dengan santai sang siswa menjawab : “tepat sekali profesor...., anda memang tidak bisa melihat Tuhan, tapi lihatlah...! Tuhan telah menciptakan otak dan pikiran yang cerdas untuk anda. Lihatlah diri anda, lihatlah bumi yang anda tempati sekarang, lihatlah alam ini, itu semua adalah hasil dari ciptaan Tuhan....”

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.
(QS. Ath-Thalaq: 12)

*******

Alibi selanjutnya yang sering dilontarkan oleh orang-orang lemah iman yang mengatakan Tuhan tidak ada adalah “Kalau memang benar Tuhan itu ada dan Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Mengapa ada orang yang hidupnya miskin dan susah....???”

Jawabannya adalah:
Allah lah yang berkuasa yang membuat seseorang itu kaya dan miskin, Allah juga yang membuat hidup manusia senang dan susah.
Orang yang hidupnya susah bukan berarti Allah zalim kepadanya, Allah tidak akan menimpakan kesusahan kepada manusia kecuali sebagai ujian bagi orang-orang yang beriman atau sebagai azab bagi orang-orang yang ingkar.
*******

Berikut ini adalah kisah yang meng-analogi-kan bahwa Allah itu ada dan Allah itu Maha pengasih dan Maha Penyayang.

Alkisah perbincangan seorang tukang cukur dengan seorang Ustad.
Suatu hari seorang Ustad memasuki barber shop (tempat cukur rambut) untuk merapikan rambutnya yang mulai panjang.
Setelah si tukang cukur mempersilakannya duduk dibangku pencukuran mereka pun terlibat obrolan menarik......

Tukang cukur : “Bapak seorang Ustad ya...?”

Ustad :“Ya... saya Ustad”

Tukang Cukur :“saya tidak percaya kalau Allah itu ada dan saya juga tidak percaya Dia Maha Pengasih dan Penyayang”

Ustad : (kaget) “Apa maksud anda berkata seperti itu?”

Tukang Cukur : (santai) “Kalau memang Allah itu ada dan Dia Maha Pengasih dan Penyayang, seharusnya di dunia ini tidak ada orang yang hidupnya susah, seharusnya Allah mengurus dan menyayangi semua orang, tapi buktinya sangat banyak gelandangan di dunia ini, sangat banyak orang yang kelaparan di dunia ini. lalu mengapa Allah membiarkan hal itu terjadi kalau memang Dia ada..?”

Mendengar jawaban terakhir dari tukang cukur itu sang Ustad terdiam, dalam posisi kepalanya dipegang oleh si tukang cukur dan salah satu tangannya memegang benda tajam, dia sadar posisinya sangat tidak menguntungkan...

Setelah rambutnya selesai dirapikan, sang Ustadpun pergi meninggalkan tempat si tukang cukur sambil berfikir.
Baru beberapa meter tempat itu ia tinggalkan, tiba-tiba sang Ustad melihat seorang laki-laki yang rambutnya gondrong dan tidak terurus berantakan, kumis, jenggot dan jambang laki-laki itu tumbuh lebat dan bewokan.

“a ha.....!!!” sang Ustad segera kembali ke tempat si tukang cukur, dan kembali terjadi obrolan seru.

Ustad : “saya tidak percaya kalau disini ada tukang cukur.......”

Tukang cukur : (kaget) “maksudnya apa... bapak berkata begitu??”

Ustad : (santai) “ lihat laki-laki di seberang jalan itu, rambutnya acak-acakan tak terurus. Bukankah tukang cukur itu kerjanya merapikan rambut orang..?”

Tukang Cukur : “orang itu rambutnya acak-acakan bukan karena saya yang tidak mau merapikan rambutnya, tapi dialah yang seharusnya datang ke tempat ini untuk memotong rambutnya.”

Ustad : “ tepat sekali.... jika ada orang yang hidupnya susah, bukan berarti Allah tidak ada atau Allah tidak Mengasihi dan menyayanginya, tapi manusia lah yang seharusnya datang dan Memohon kepada Allah dengan cara menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya”
*******

Semoga bermanfaat
Salam cinta secinta-cintanyanya

(^_^)
SYAIFUL PUTRA
www.syaifuljourney.blogspot.com
Baca Selengkapnya!

24 Apr 2010

Akal dan Hawa Nafsu

Manusia adalah salah satu makhluk yang diciptakan Allah SWT di samping makhluk-makhluk lain ciptaan-Nya. Di samping adanya perbedaan yang sangat mendasar antara penciptaan binatang dan manusia, ternyata masih ada kesamaan di antara keduanya. Kesamaannya, masing-masing baik binatang maupun manusia itu diciptakan secara fitrah memiliki kecenderungan memenuhi kebutuhan hawa nafsu. Adapun perbedaan yang sangat mendasar dari keduanya adalah dalam proses pemenuhan hawa nafsu.

Binatang, oleh karena mereka tidak diberi akal maka naluri kecenderungan pemenuhan hawa nafsunya hanya sebatas fitrahnya. Misalnya, bila lapar lantas mereka pun akan segera mencari makanan untuk dimakan. Setelah kenyang mereka akan diam. Sebelum lapar mereka tidak akan makan, mereka akan makan hanya pada saat mereka betul-betul merasa lapar.

Dalam kehidupan binatang, ada yang berusaha menutupi kebutuhan hidupnya dengan sendiri-sendiri, ada pula yang membina kebersamaan di bawah satu kepemimpinan seperti dalam kelompok lebah atau tawon atau An Nahl. Allah SWT berfirman: “Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah:”Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia”. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu) dari perut lebah itu keluar madu yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesung-guhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan”(An Nahl, 16 :68-69).

Ayat di atas mengingatkan kita akan kebersamaan para lebah untuk menjadi contoh bagi kita, di bawah satu kepemimpinan mereka membina kesatuan, kerja sama yang sangat baik dan menghasilkan karya yang dapat dinikmati oleh manusia di antaranya madu yang bisa menjadi obat. Demikian pula, kehidupan semut pun dalam membina kebersamaan layaklah kita tiru.

Adapun manusia, di samping memiliki kecenderungan hawa nafsu untuk memenuhi kebutuhan hidup baik nafsu makan ataupun nafsu kebutuhan biologis, selain itu pula manusia diberi akal. Semestinya dengan akalnya ini manusia harus lebih bisa mengendalikan hawa nafsunya dibanding dengan binatang. Karena dengan akalnya, manusia harus bisa terbimbing untuk bisa membedakan mana yang menjadi haknya dan mana yang menjadi hak orang lain, mampu membedakan mana yang boleh dimakan dan mana yang tidak boleh dimakan, dan harus mampu pula membedakan mana yang bisa dinikmati dan mana yang tidak boleh dinikmatinya. Sesungguhnya, manusia derajatnya harus lebih baik daripada binatang.

Tetapi dalam realita kehidupan, menurut Al Madudi, kita selalu menyaksikan hampir pada setiap zaman justru sebagian besar manusia itu lebih tidak terkendali dalam memenuhi kebutuhan hawa nafsunya dibanding dengan binatang. Ini terjadi akibat dari lepasnya kendali dalam dirinya, karena akal yang seharusnya berfungsi mengendalikan hawa nafsu, namun pada prakteknya malah dikendalikan hawa nafsu. Sekan-akan tugas dan fungsi akal hanyalah memikirkan bagaimana caranya untuk memuaskan hawa nafsu. Ini semua bisa terjadi tiada lain karena tidak adanya kendali agama.

Di dalam Al Qur’an, dijelaskan bahwa manusia-manusia yang seperti ini tidak ubahnya binatang ternak bahkan jauh lebih rendah daripada binatang. Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Al A’raaf, 7 : 179).

Mereka memiliki akal tetapi tidak dipergunakan untuk berfikir pada jalan yang benar, mereka memiliki mata tetapi tidak dipakai untuk melihat yang benar, mereka memiliki pendengaran juga tidak dipakai untuk mendengar kalimat-kalimat Allah yang seharusnya dapat menuntun hidup mereka. Akhirnya mereka tidak ada ubahnya seperti binatang bahkan lebih rendah daripada binatang.

Lebih lanjut, Al Madudi menyatakan, “Bila kita mau jujur melihat, kita tidak akan pernah menyaksikan ada sekelompok singa yang berusaha menyusun angkatan bersenjatanya untuk menyerang kelompok singa yang lain. Atau juga, kita tidak akan pernah menyaksikan ada seekor anjing yang berusaha untuk memperbudak anjing yang lain. Jujur saja, kita juga tidak akan pernah melihat ada seekor katak yang berusaha menutup mulut katak yang lain dengan tidak memberinya kesempatan untuk bersuara”. Bila dilihat dari sisi ini, ternyata hak asasi binatang (HAB) di dunia binatang itu jauh lebih terpenuhi dengan baik dibanding dengan hak asasi manusia (HAM) dalam kehidupan manusia.

Kata Al Madudi pula, kalau kita berbicara tentang binatang yang diberi gelar oleh manusia dengan gelar “Binatang Buas”. Padahal, sebuas-buasnya binatang tidak akan mengalahkan buasnya manusia. Sejak binatang buas dan manusia itu ada, berapa jumlah korban manusia yang pernah dimakan binatang buas dibandingkan kebuasan manusia atas manusia pada Perang Dunia I, misalnya. Bila dilhat dari sisi ini sebenarnya manusia lebih buas daripada binatang buas itu sendiri. Yakni manusia-manusia yang tidak mau mempergunakan hati, mata dan pendengaran mereka pada jalan yang benar. Mereka betul-betul termasuk, “kal an’aam” (binatang ternak), “bal hum adhallu” (bahkan mereka jauh lebih redah) daripada binatang.

Pertanyaannya, lantas hal apa yang sekiranya bisa meluruskan tingkah laku manusia yang sudah sedemikian rusak moralnya ? Jawabannya, Islamlah yang menjadi solusinya. Di dalam Al Quran dinyatakan, bahwa Rasulullah Saw ditamsilkan oleh Allah SWT sebagai sosok hamba-Nya yang memang hadir dalam kehidupan ini untuk menjadi suri teladan. Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya engkau Muhammad adalah orang yang memiliki akhlak yang sangat agung atau mulia” (Al Qalam, 68 : 4)

Rasulullah Saw sendiri menyatakan bahwa: “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah SWT hanyalah semata-mata untuk menyempurnakan akhlak manusia” (HR. Sa’ad, Bukhari, Baihaqi dari Abu Hurairah). Oleh karena itu, kalau kita lihat risalah Islam baik itu yang menyangkut masalah akidah dan syariah maka seluruh risalah Islam ini bemuara pada pembentukan akhlak. Sehingga akan bisa menjadi ukuran bahwa seseorang itu sudah benar akidah dan ibadahnya bisa dilihat dari akhlaknya. Jadi, yang menjadi parameter atau ukurannya adalah akhlaknya. Sehinggga Ibnu Qayyim pernah menyatakan, bahwa agama itu adalah akhlak, barangsiapa yang bertambah baik akhlaknya berarti dia bertambah baik agamanya. Ini sejalan dengan hadits, di mana Rasululah Saw pernah bersabda: “Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya’ (HR. Turmudzi)

Ini adalah sebuah prinsip risalah Islam yang hadir untuk membawa manusia mencapai kepribadian atau akhlak yang mulia agar tidak terseret dalam kehidupan seperti binatang. Pertanyaannya, bagaimana cara Islam bisa membentuk itu semua ? Pembentukannya tiada lain diawali dengan pembentukan keimanan atau akidah, disadarkannya manusia tentang apa yang menjadi tujuan hidupnya. Orang yang “tidak” beragama maka jelas dia tidak akan memiliki tujuan hidupnya. Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)” (Ar Ra’d, 13 : 25).

Hawa nafsu bisa membuat manusia menjadi buta matanya, tuli telinganya dan tumpul akalnya tidak bisa berfikir ke jalan yang benar. Karena hawa nafsunya sudah menjadi ilah atau tuhannya. Allah SWT berfirman: “Dan siapakah orang yang lebih sesat dari orang yang telah mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah” (Al Qashash, 28 : 50). Dalam firman-Nya pula: “Tidakkah engkau perhatikan mereka orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsu mereka itu sebagai ilah atau tuhan” (Al Furqaan, 25 : 43)

Ayat di atas menggambarkan kondisi manusia yang hidup tanpa iman, mereka betul-betul sudah menjadikan nafsu mereka sebagai tuhannya. Maka kita tidak bisa banyak berharap akan lahir sifat-sifat kemanusiaan dari manusia-manusia seperti ini. Lebih berbahaya lagi jika orang-orang seperti ini bisa tampil sebagai pemimpin masyarakat, maka dia tidak akan peduli dengan rintihan atau jeritan orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Segala macam cara untuk memperoleh kenikmatan dunia ia jalankan tanpa mau melihat lagi batasan halal dan haram.

Sebaliknya, bagi seorang mu’min tidaklah demikian. Dia akan menyadari betul apa yang menjadi tujuan hidupnya. Dia menyadari bahwa hidup di alam dunia ini bukan hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan hawa nafsunya, bahkan dia pun sadar betul bahwa hidup di alam dunia ini sendiri bukanlah merupakan tujuan. Yang menjadi tujuan hidupnya tiada lain adalah akhirat dan ridha-Nya. Allah SWT berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”(Al Qashash, 28 : 77).

Gambaran falsafah hidup seorang muslim terhadap dunia ini digambarkan oleh Allah SWT lewat firman-Nya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu ?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka. (Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) dan yang memohon ampun pada waktu sahur”(Ali Imran, 3 : 14-17).

[ K.H. Athian Ali M. Da’i, MA ]

Semoga Bermanfaat

Salam Cinta Secinta-cintanya

(^_^)
SYAIFUL PUTRA
www.syaifuljourney.blogspot.com Baca Selengkapnya!

14 Apr 2010

Pacaran (Haram)

Manusia diciptakan oleh Allah ta'ala dengan membawa fitrah (insting) untuk mencintai lawan jenisnya. sebagaimana firmanNya : "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS. Ali-Imran : 14).

Berkata Imam Qurthubi : "Allah ta'ala memulai dengan wanita karena kebanyakan manusia menginginkannya, juga karena mereka merupakan jerat-jerat syetan yang menjadi fitnah bagi kaum laki-laki, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : "Tiadalah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita." (HR. Bukhari : 5696, Muslim : 2740, Tirmidzi : 2780, Ibnu Majah : 3998).

Oleh karena itu, wanita adalah fitnah terbesar dibanding yang lainnya. (Tafsir Qurthubi 2/20). Rasulullah SAW pun, sebagai manusia tak luput dari rasa cinta terhadap wanita. Dari Annas bin Malik RA berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Disenangkan kepadaku dari urusan dunia wewangian dan wanita." (HR. Ahmad 3/285, Nasa'i 7/61, Baihaqi 7/78 dan Abu Ya'la 6/199 dengan sanad hasan. Lihat Al-Misykah : 5261).

Karena cinta merupakan fitrah manusia, maka Allah ta'ala menjadikan wanita sebagai perhiasan dunia dan nikmat yang dijanjikan bagi orang-orang beriman di surga dengan bidadarinya.
Dari Abdullah bin Amr bin Ash RA berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita yang shalihah." (HR. Muslim 10/56, Nasa'i 6/69, Ibnu Majah 1/571, Ahmad 2/168, Baihaqi 7/80).

Allah berfirman : "Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik." (QS. Ar-Rahman : 70).

Namun, Islam sebagai agama paripurna para Rasul, tidak membiarkan fitnah itu mengembara tanpa batas, Islam telah mengatur dengan tegas bagaimana menyalurkan cinta, juga bagaimana batas pergaulan antara dua insan lawan jenis sebelum nikah, agar semuanya tetap berada dalam koridor etika dan norma yang sesuai dengan syari'at.

***

Etika Pergaulan Lawan Jenis Dalam Islam

1. Menundukan pandangan terhadap lawan jenis
Allah memerintahkan kaum laki-laki untuk menundukan pandangannya, sebagaimana firmanNya : Katakanlah kepada laki-laki yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nur : 30).
Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada wanita beriman, Allah berfirman : Dan katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nur : 31).

2. Menutup aurat
Allah berfirman : "Dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya." (QS. An-Nur : 31).
Juga firmanNya : Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu'min : "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab : 59).
Perintah menutup aurat juga berlaku bagi semua jenis, sebagaimana sebuah hadits : Dari Abu Sa'id Al-Khudri RA berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Janganlah seorang laki-laki memandang aurat laki-laki, begitu juga wanita jangan melihat aurat wanita." (HR. Muslim 1/641, Abu Dawud 4018, Tirmidzi 2793, Ibnu Majah 661).

3. Adanya pembatas antara laki-laki dengan wanita
Kalau ada sebuah keperluan terhadap lawan jenis, harus disampaikan dari balik tabir pembatas. Sebagaimana firmanNya : "Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (para wanita) maka mintalah dari balik hijab." (QS. Al-Ahzab : 53).

4. Tidak berdua-duaan dengan lawan jenis
Dari Ibnu Abbas RA berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda; "Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (Khalwat) dengan wanita kecuali bersama mahramnya." (HR. Bukhari 9/330, Muslim 1341).
Dari Jabir bin Samurah berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan seorang wanita, karena syetan akan menjadi yang ketiganya." (HR. Ahmad 1/18, Tirmidzi 3/374 dengan sanad Shahih, lihat Takhrij Misykah 3188).

5. Tidak mendayukan ucapan
Seorang wanita dilarang mendayukan ucapan saat berbicara kepada selain suami. Firman Allah : "Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik." (QS. Al-Ahzab : 32).
Berkata Imam Ibnu Katsir : "Ini adalah beberapa etika yang diperintahkan oleh Allah kepada para istri Rasulullah saw serta para wanita mu'minah lainnya, yaitu hendaklah dia kalau berbicara dengan orang lain tanpa suara merdu, dalam artian janganlah seorang wanita berbicara dengan orang lain sebagimana dia berbicara dengan suaminya." (Tafsir Ibnu Katsir 3/530).



6. Tidak menyentuh lawan jenis
Dari Ma'qil bin Yasar RA berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (HR. Thabrani dalam Mu'jam Kabir 20/174/386 dan Rauyani dalam musnadnya 1283 dengan sanad hasan, lihat Ash-Shohihah 1/447/226).
Berkata Syaikh Al-Albani rahimahullah : "Dalam hadits ini terdapat ancaman keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (Ash-Shohihah 1/448).
Rasulullah SAW tidak pernah menyentuh wanita meskipun dalam saat-saat penting seperti membai'at dan lain-lain. Dari 'Aisyah berkata : "Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat." (HR. Bukhari 4891).
Inilah sebagian etika pergaulan laki-laki dengan wanita selain mahram, yang mana apabila seseorang melanggar semuanya atau sebagiannya saja akan menjadi dosa zina baginya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : Dari Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. zina mata dengan memandang, zina lisan dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan-angan, lalu farji yang akan membenarkan atau mendustakan semuanya." (HR. Bukhari 4/170, Muslim 8.52, Abu Dawud 2152).
Padahal Allah ta'ala telah melarang perbuatan zina dan segala sesuatu yang bisa mendekati perzinaan (Lihat Hirosatul Fadhilah oleh Syaikh Bakr Abu Zaid, Hal. 94-98) sebagaimana firmanNya : "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra' : 32).

***

Hukum Pacaran

Setelah memperhatikan ayat dan hadits di atas, maka tidak diragukan lagi bahwa pacaran itu haram, karena beberapa sebab berikut :

1. Orang yang sedang pacaran tidak mungkin menundukan pandangannya terhadap kekasihnya.

2. Orang yang sedang pacaran tidak akan bisa menjaga hijab.

3. Orang yang sedang pacaran biasanya sering berdua-duaan dengan kekasihnya, baik di dalam rumah atau di luar rumah.

4. Wanita akan bersikap manja dan mendayukan suaranya saat bersama kekasihnya.

5. Pacaran identik dengan saling menyentuh antara laki-laki dengan wanita, meskipun itu hanya jabat tangan.

6. Orang yang sedang pacaran, bisa dipastikan selalu membayangkan orang yang dicintainya.

Dalam kamus pacaran, hal-hal tersebut adalah lumrah dilakukan, padahal satu hal saja cukup untuk mengharamkan pacaran, lalu bagaimana kalau semuanya?

***

Fatwa Ulama' Seputar Pacaran

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin ditanya tentang hubungan cinta sebelum nikah (pacaran)? Jawab beliau : Jika hubungan itu sebelum akad nikah, baik sudah lamaran ataupun belum, maka hukumnya haram, karena tidak boleh seseorang untuk bersenang-senang dengan wanita asing (bukan mahramnya) baik lewat ucapan, memandang, ataupun berdua-duaan. Sebagaimana telah tsabit dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda : "Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya, dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya". (Fatwa Islamiyah kumpulan Muhammad Al-Musnid 3/80).

Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Jibrin ditanya : "Kalau ada seorang laki-laki yang berkorespondensi dengan seorang wanita yang bukan mahramnya, yang pada akhirnya mereka saling mencintai, apakah perbuatan itu haram?" Jawab beliau : Perbuatan itu tidak diperbolehkan, karena bisa menimbulkan syahwat di antara keduanya, serta mendorongnya untuk bertemu dan berhubungan, yang mana korespondensi semacam itu banyak menimbulkan fitnah dan menanamkan dalam hati seseorang untuk mencintai perzinaan yang akan bisa menjerumuskan seseorang pada perbuatan keji, maka saya menasehatkan kepada setiap orang yang menginginkan kebaikan bagi dirinya untuk menghindari surat-suratan, pembicaraan lewat telepon serta perbuatan semacamnya demi menjaga agama dan kehormatannya.

Syaikh Jibrin juga ditanya : "Apa hukumnya kalau ada seorang pemuda yang belum menikah menelepon gadis yang belum menikah?" Jawab beliau : Tidak boleh berbicara dengan wanita asing (bukan mahramnya) dengan pembicaraan yang bisa menimbulkan syahwat, seperti rayuan, mendayukan suara baik lewat telepon maupun lainnya. Sebagaimana firman Allah ta'ala : "Dan janganlah kalian melembutkan suara, sehingga akan berkeinginan orang-orang yang hatinya terdapat penyakit." (QS. Al-Ahzab : 32). Adapun kalau pembicaraan itu untuk sebuah keperluan, maka hal itu tidak mengapa apabila selamat dari fitnah, akan tetapi hanya sekedar keperluan. (Fatawa Islamiyah 3/97).

***

Syubhat dan Jawabannya

Sebenarnya, keharaman pacaran lebih jelas dari pada matahari di siang bolong. Namun begitu masih ada yang berusaha menolaknya walaupun dengan dalil yang sangat rapuh, serapuh rumah laba-laba, diantara syubhat itu adalah :

Tidak bisa dipukul rata bahwa pacaran itu haram, karena bisa saja orang pacaran yang Islami, tanpa melanggar syariat.
Jawab : Istilah "Pacaran Islami" itu cuma ada dalam khayalan, dan tidak pernah ada wujudnya. Karena anggaplah bisa menghindari khalwat, menyentuh serta menutup aurat. tapi tetap tidak akan bisa menghindari dari saling memandang. Atau paling tidak membayangkan dan memikirkan kekasihnya. Yang mana hal itu sudah cukup mengharamkan pacaran.

Orang sebelum memasuki dunia pernikahan, butuh untuk mengenal dahulu calon pasangan hidupnya, baik sisi fisik maupun karakter, yang mana hal itu tidak akan bisa dilakukan tanpa pacaran, karena bagaimanapun juga kegagalan sebelum menikah akan jauh lebih ringan daripada kalau terjadi setelah nikah.
Jawab : Memang, mengenal fisik dan karakter calon istri maupun suami merupakan suatu hal yang dibutuhkan orang sebelum memasuki biduk pernikahan, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari, juga tidak terkesan membeli kucing dalam karung. Namun, tujuan ini tidak bisa menghalalkan sesuatu yang haram.

Ditambah lagi, bahwa orang yang sedang jatuh cinta akan berusaha menanyakan segala yang baik dengan menutupi kekurangannya di hadapan kekasihnya. Juga orang yang sedang jatuh cinta akan menjadi buta dan tuli terhadap perbuatan kekasihnya, sehingga akan melihat semua yang dilakukannya adalah kebaikan tanpa cacat. (Lihat Faidhul Qodir oleh Imam Al-Munawi 3/454). Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Darda : "Cintamu pada sesuatu membuatmu buta dan tuli." (Hadits lemah baik marfu' maupun mauquf, riwayat Bukhari dalam Tarikh Kabir 2/1/157, Abu Dawud 5130, Ahmad 5/194, Lihat Silsilah Dloifah 4/348/1868)

Sumber: Faceebook (Catatan Ust.Yusuf Mansur)

Semoga Bermanfaat

Salam Cinta Secinta-cintanya

(^_^)
SYAIFUL PUTRA
www.syaifuljourney.blogspot.com Baca Selengkapnya!

Bunga Pengganti Mawar (Continuous of Mawar Hati)

“Di sela-sela hati yang luka....
Di antara tumpukkan puing-puing perasaan......
Di tengah dasar jurang kekecewaan.........
Bersama rasa cinta yang hampir hilang......
Adakah untukku sebuah jalan....?
Jalan menemukan sayang......
Atau... adakah sayang yang mampu menemaniku...?
Setelah aku mati bersama rasaku......”

Sore berawan di Jakarta, Metropolitan memasuki musim hujan. Matahari yang perkasa tak mampu mengusir mendung yang seharian menyelimuti cakrawala Ibu Kota dan sekitarnya. Dimana-mana di setiap sudut kota orang-orang sibuk membicarakan banjir yang telah menjadi “tardisi” tahunan di Jakarta.

Ciri khas Jakarta dengan panasnya matahari yang membakar telapak kaki, kali ini malah sebaliknya, Udara siang yang biasanya panas kali ini terasa begitu sejuknya.

Sore itu Seffa dan Ahmad berhenti di pinggiran jalan raya Serpong, di depan mereka terpampang tulisan “Taman Kota” BSD (Bumi Serpong Damai). setelah memarkirkan motornya mereka langsung memasuki gerbang taman dan belok kiri memasuki Jogging Track sepanjang lebih kurang 1km yang melingkari Taman.

Begitu memasuki Jogging Track Ahmad langsung lari-lari kecil, sementara Seffa tetap berjalan santai. Ia berjalan perlahan menelusuri lintasan jogging, di sepanjang lintasan terlihat para pengunjung taman yang lain juga sibuk dengan dunia masing-masing, ada yang lari-lari kecil, ada yang asyik berfoto-foto. Sementara itu di bangku-bangku yang banyak terdapat di area taman terlihat muda-mudi yang lagi asyik “bercanda” berpasangan, kebanyakan dari muda-mudi itu adalah anak-anak usia sekolah dan mahasiswa. Meskipun sore itu cuaca mendung namun kalau akhir pekan, Taman Kota BSD selalu ramai pengunjung.

Dimana-mana sore hari di akhir pekan memang waktu yang selalu ditunggu-tunggu oleh para remaja untuk menjumpai kekasihnya, mereka lebih memilih menemui pujaan hatinya dari pada berkumpul bersama orang tuanya di rumah. Mereka tidak pernah sadar bahwa sore yang mereka lewati itu akan menjadi saksi sejarah bagi mereka, mereka tidak menyadari bahwa sore itu juga akan menjadi saksi atas mereka di hadapan pengadilan Allah di akhirat kelak...(this paragraph inpired By: Habiburrahman El-Shirazhy, KCB 1).

Langit di atas sana terlihat semakin gelap, Seffa masih berjalan santai, langkahnya telah sampai di pinggir kali kecil di belakang taman. Di seberang kali Kampus Perguruan Al-Azhar BSD tampak berdiri dengan megah.

“ayo Boy...! semangat.... Boy....” Ia dikagetkan oleh Ahmad.

Ahmad telah mandi keringat, ia telah lari sebanyak dua kali keliling taman, sementara Seffa tetap berjalan santai dan tidak mempedulikan si Ahmad.

Sebenarnya bukan karena semata-mata awan gelap di sore itu yang membuat Ibu Kota terasa mendung baginya, bukan semata-mata musim hujan yang membuat ia lesu dan kehilangan semangat. Semangatnya hilang sejak sebulan yang lalu setelah ia mengetahui Shesfi gadis yang dicintainya telah dijodohkan. Sebenarnya ia telah bisa melupakan itu semua dan telah menghapus semua memorinya tentang gadis itu, namun siang itu ia baru saja menerima SMS:

“uda.... Do’ain Fi ya..., Fi udah bertunangan dan Insya Allah pertengahan tahun ini akan menikah.....”

Baginya, membaca SMS itu terasa seperti sembilu yang kembali menoreh lukanya yang belum seluruhnya terobati.

“Wahai bidadari.........
Belum terobat kelukaanku....
Kau goreskan lagi luka yang baru.... tapi....
Bagiku tak mengapa....... dan.....

Berharap engkau bahagia.....”


@@@@@@



Pagi beranjak siang, cakrawala Metropolitan tampak cerah, tidak seperti beberapa hari belakangan dimana mendung begitu akrab dengan aktifitas warga, kali ini sang mentari benar-benar menunjukkan keperkasaannya. Di angkasa sana terlihat langit Lazuardi biru begitu indah yang dihiasi sekumpulan awan putih bak kapas yang berterbangan.

Tidak hanya langit Jakarta yang cerah siang itu, Seffa yang beberapa hari terakhir tampak murung siang itu juga terlihat lebih ceria, ia tampak semangat melewati harinya. Dia tampak seperti memiliki jiwa yang baru dalam jasadnya.

Siang itu dengan penuh semangat ia mengendarai motornya menelusuri jalan raya akses sirkuit Sentul. Ia dalam perjalanan kembali ke Jakarta setelah sejak kemaren sore ia berada di Masjid Muammar Qaddafy (Qaddafy Islamic Center: QIC) yang berada di komplek Perum Bukit Azzikra Jabal Sentul Kabupaten Bogor. Ia baru saja mengikuti serangkaian acara “Zikir Akbar” bersama Ustad Arifin Ilham yang diadakan rutin setiap hari ahad pertama tiap bulan di QIC. Rangkaian acaranya dimulai dari sabtu malam minggu dengan berbagai acara religius seperti Tadarus bersama para Imam masjid dan para Hafiz, Qiyamulail bareng dan serangkaian acara mabid lainnya. Sedangkan acara tausiah dan zikir bersama dilaksanakan pada hari minggu paginya.

Tausiyah dan zikir itulah yang membuatnya jiwanya kembali hidup, dalam tausiyahnya Ustad Arifin mengatakan;

“Segala yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi, semuanya fana. Yang kekal abadi hanyalah Allah Azza Wa Jalla.”
“tidak ada cinta yang sempurna kecuali cintanya Allah, dan yang akan diberikan nikmatnya cinta hanyalah dua orang yang saling mencintai karena Allah”
“oleh karena itu jangan terlalu berlebihan mencintai seseorang di dunia ini, karena boleh jadi besok engkau akan membencinya.”
“Jangan takut dan sedih jika ditinggal oleh seseorang yang engkau cintai, tapi takutlah jika cinta Allah yang meninggalkan engkau”

Seffa merasa mendapat mata air di tengah tandus dan gersang hatinya yang terluka. Kata-kata ustad itu baginya bagaikan seribu bunga yang tumbuh menggantikan Mawar yang layu di hatinya, ia merasa menerima cahaya di tengah kegelapan perasaannya.

Selain tausiyah pagi itu, juga ada beberapa SMS dan email dari teman-teman sekolahnya dulu yang sangat membantu dalam pemulihan semangatnya.
Kata-kata yang menjadi bunga yang bercahaya , yang mampu mengganti mawar hatinya itu di antarnya datang dari Shella yang mengatakan:
“Sabar aja Seffa, semoga ada jodoh yang indah untukmu”

Ada juga email dari Julia:
“Mekum fren, aku telah mengetahui cerita tentang kamu, saran dariku,: cinta sejati yang telah pergi kadang akan kembali. Namun jika semua telah terjadi, sayangilah yang kamu miliki hari ini....”

Melaui pembicaraan di telepon, Santi menghibur:
“Memang sulit untuk melupakan semua, dan semua itu memang tak pantas untuk dilupakan, tapi kenanglah itu semua dan jadikan pengalaman indah yang berharga di masa depan....”

Anwar Indweling teman lama waktu di SMK juga mengirim pesan berbahasa Minang:

“ baa sanak..? alah sanang hati sanak kini...? jan lo sampai mati raso dek ulah bungo satangkai, banyak bungo nan lain lai sanak..”


@@@@@@


Kini Seffa telah kembali mendapatkan jiwanya. Ia tidak mau lagi larut dalam kesediahan yang tak jelas. Ia sadar bahwa masa depannya masih panjang. Ia juga sadar bahwa ia masih memiliki tanggung jawab terhadap adiknya July, ia juga ingin membahagiakan ibunya, sebab kini hanya punya satu pintu yang terbuka untuk menuju surga-Nya yaitu ibunya.

“Ada yang hilang…… namun nafasku panjang……
Hujan dan badai akan temani aku pulang……….
Tak ku sesali yang terjadi……
Sa’at kau pergi…… seribu bunga mekar di hati……”

Seffa berusaha meyakinkan dirinya bahwa, banyak orang lain yang mengalami kisah yang lebih menyedihkan dari yang ia alami. Ia teringat kisah cinta yang sangat menyedihkan dari dua orang temannya bernama Ammar dan Rheena.

Ammar dan Rheena adalah dua orang yang pernah mengalami kisah “cinta terlerai”. Ammar pernah ditinggal menikah oleh bidadari hatinya, sedangkan Rheena juga pernah kehilangan Pangeran pujaannya karena terlerai restu orang tua sang pangeran.

Tetapi perjalanan panjang sang waktu malah mempertemukan Ammar dan Rheena dalam sebuah Cinta di kota Pekanbaru.


@@@@@@



NOTE:
Tunggu postingan selanjutnya yang akan menceritakan kisah Ammar dan Rheena, dalam judul “KEKASIH TERLERAI”

Semoga Bermanfaat,

Salam Cinta Secinta-cintanya

(^_^)
SYAIFUL PUTRA
www.syaifuljourney.blogspot.com Baca Selengkapnya!

20 Feb 2010

kisah Sukses TIP TOP Swalayan

Saya lahir pada tahun 1933, di Padang, Sumatera Barat. Alhamdulillah sejak kecil orang tua mendidik saya dengan ajaran Islam yang ketat. Ayah saya berlatar pedagang. Sejak saya kecil, ia juga mendidik saya untuk berdagang. Sekaligus mengajarkan akhlaq berdagang.
Suatu saat tanpa disadari, ayah saya kurang mengembalikan uang pembeli. Tetapi pembeli itu diam saja dan berlalu. Lekas dipanggilnya orang itu. Sewaktu saya bertanya mengapa dikembalikan sisa uangnya sedangkan orang itu tidak tahu. Ayah menjawab, Allah Maha Tahu. Sikap demikian akhirnya tertanam dalam hati nurani saya.
Sewaktu baru berumur 11 tahun, saya sudah diberinya sejumlah uang. “Kamu mau dagang apa, terserah,” ujarnya lembut. Setiap pulang “berdagang”, saya melaporkan pendapatan saya. “Berapa kamu dapat ? Bagus,” pujinya. Waktu itu saya berinisiatif menjual kelapa. Dengan menggunakan gerobak, saya membeli kelapa di rumah penduduk, dan menjualnya ke pasar dengan jarak tempuh sampai 10 km.
Tapi ayah tetap mengutamakan pendidikan formal. “Jangan tinggalkan sekolah.”itu selalu ia tekankan. Lulus SMA saya meneruskan studi ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Setelah lulus, saya bekerja sebagai Direktur BPD. Saya sudah bertekad, suatu saat harus mandiri. Setelah tujuh tahun bekerja di BPD, saya menolak diperpanjang masa jabatan. Saya merasa inilah titik awal permulaan usaha saya. Saya mesti berdiri di atas kaki sendiri.
Maka sejak 1967, saya mulai menekuni berbagai bidang usaha. Hingga sepuluh tahun kemudian, sewaktu mencoba bisnis properti kecil-kecilan, saya sadar, usaha itu sudah tidak bisa lagi saya kembangkan.
Lalu pada tahun 1978, saya memutuskan keliling Eropa, melakukan “studi banding”, apa sih yang sebaiknya saya kembangkan. Akhirnya saya menemukan, yang pokok diperlukan manusia itu sandang dan pangan. Ternyata siapa yang bergerak di bidang itu, asalkan mempraktekkan teori-teori yang benar, dapat berkembang.
Pada tahun 1979, mulailah saya membuka TIP TOP di Rawamangun. Waktu itu hanya toko kecil, semacam mini market. Saya memulai dari bawah, dari nol. Luas lantainya hanya 400 M2. Saya juga pergi ke pasar-pasar tradisional membeli bawang, cabai langsung sama mbok-mbok penjualnya. Ini berlangsung sekitar dua tahun. Bagi saya ini banyak hikmahnya, saya jadi tahu perputaran arus barang mulai dari bawah.
Sejak awal saya sudah mematok mini market itu harus berdasarkan prinsip-prinsip Islami. Bukan hanya tidak menjual daging babi dan minuman keras, tetapi saya juga selektif memilih barang. Misalnya daging sapi atau ayam, kalau harganya terlalu murah, atau tidak jelas memotongnya Islami atau tidak, saya tolak. Bagi saya justru nmencurigakan kalau harganya terlalu murah, dari mana dapat daging itu? Jadi barang-barang yang tidak jelas asal usulnya tak mau saya terima. Saya juga perlu melihat langsung tempat pemotongan hewannya.Saya berusaha memprotect, agar hanya barang yang halal dan thoyyib saja yang dijual.
Saya juga mencoba mengikuti bagaimana nabi berdagang, tentunya sepanjang yang saya ketahui. Nabi Muhammad berdagang sesuai dengan hati nuraninya, tidak mau menipu, mencelakakan atau menganiaya orang. Ini saya coba terapkan. Bagi saya kalau sudah cukup untung 2 sampai 3 % jangan mengambil 5 atau 10 %. Setahu saya prinsip dalam Islam itu, carilah pendapatan secukupnya untuk dirimu. Jadi walaupun barangnya halal, tapi kalau harganya mahal, bagi saya tidak baik, dan tidak Islami juga jadinya.
Ternyata dasar Islami ini mendapat respon positif dari masyarakat. Tip Top mendapat sambutan di luar dugaan saya. Perkembangannya demikian cepat, bagaikan air bah saja. Lahan seluas 400 M2 itu tidak mencukupi. Tiap tahun saya harus memperluas , dengan membongkar bagian rumah saya di samping mini market. Tahun 1985, Tip Top sudah berubah jadi Pasar Swalayan, dengan luas 3000 M2 dan kenaikan penjualan 20 hingga 30 kali lipat.
Berdasarkan pemantauan kami, pelanggannya tidak hanya yang tinggal di Rawamangun saja, tapi meluas hampir di seluruh Jakarta Timur. Saya merasa ini tak lain karena ridlo Allah. Dengan kesadaran ini, saya semakin takut untuk keluar dari jalur Islami. Tawaran dari supplier barang yang tidak Islami, misalnya minuman keras, bukannya tidak ada. Bahkan fasilitasnya mudah dan keuntungannya besar. Saya tetap menolak semuanya.
Hingga pada Juni 1991, Allah menguji saya. Kebakaran besar tiba-tiba menimpa Tip Top.Semuanya habis terbakar. Inventaris, stok-stok barang, gedung, ludes terbakar semuanya. Tak ada lagi yang tersisa. Hingga menjelang shubuh, api yang mengamuk sejak jam satu malam masih berkobar. Pemadam kebakaran boleh dibilang minim bantuannya, karena sedang terjadi kebakaran juga di Jatinegara.
Sewaktu melihat api yang menjilat-jilat itu, saya sempat berfikir, apakah ini hukuman atau cobaan dari Allah. Bagi saya, kalaupun ini hukuman, saya tetap bersyukur. Berarti Allah masih berkenan memperingatkan saya dan masih memberi kesempatan saya memperbaiki diri. Sewaktu api masih mengganas, saya pulang untuk sholat shubuh. Setelah sholat, rasanya muncul cahaya, bahwa ternyata itu bukan hukuman. Tapi cobaan dari Allah. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa pada waktu itu saya dicoba.
Pagi hari para karyawan berdatangan. Tak pelak lagi mereka terkejut, sedih, bahkan menangis. Saya hadapi mereka, saya sampaikan apa yang saya yakini. Bahwa kita sedang dicoba oleh Allah, apakah mampu atau tidak kita melewatinya. Kalau mampu, kita akan “naik kelas”. Kalau tidak, malah akan ditutup segala pintu rizki oleh Allah. Sayapun sudah bertekad, harus bangkit kembali.
Setelah musibah itu, tanpa saya duga sama sekali, pihak Pemda meminta Tip Top harus berdiri kembali. Jam sepuluh pagi sesudah kebakaran itu, mereka bilang,”Kalau perlu buka saja disini(areal Pemda-red). Kalau pun mau membangun kembali di tempat lama, apa kesulitannya, kami yang akan urus.” Saya sangat terharu. Rasaya mereka kok lebih berkepentingan daripada kami.
Wakil Gubernur saat itu menanyakan, berapa karyawan yang teraniaya akibat kebakaran itu. Saat itu ada sekitar 200 karyawan yang menggantungkan hidupnya pada Tip Top. Ternyata ia menyampaikan, mereka akan disantuni Pemerintah DKI. “Kalau soal ijin dan lainnya, saudara tidak usah khawatirkan. Pemerintah DKI akan berada di belakang saudara.” ujarnya pada saya. Itu suatu support luar biasa yang sama sekali tidak saya duga sebelumnya. Tambah kuat keyakinan saya bahwa ini cobaan dari Allah. Masalah-masalah setelah kebakaran rasanya dimudahkan saja oleh-Nya.
Hal lain yang juga di luar dugaan saya, adalah mudahnya saya memperoleh pinjaman dalam jumlah sangat besar, buat membangun kembali Tip Top. Pertolongan-pertolongan yang tidak disangka sama sekali, ternyata saya dapatkan dengan mudah. Saya pikir itulah kehendak Allah. Sebagai manusia, saya dengan sendirinya sangat terharu dengan karunia Allah ini.
Sekitar dua minggu kemudian, Tip Top dibangun kembali. Di areal lama. Bulan September, separoh dari supermarket sudah dapat dibuka kembali. Saat itu hutang saya kepada supplier mencapai dua milyar lebih. Tapi, Alhamdulillaah, mereka tetap percaya kepada kami. Walaupun hutang itu belum bisa dibayar, mereka tetap mensupli kami dengan barang-barang baru.
Pada Februari 1992, keadaan kembali seperti semula,. Setelah enam bulan sebelumnya kami bekerja siang dan malam. Dengan sendirinya kami mengalami berbagai pembaharuan. Bergerak dengan semangat, kemampuan, situasi serta keadaan yang baru. Ternyata para pelanggan juga tidak meninggalkan kami. Akhirnya, masih pada tahun 1992 itu, semua hutang saya pada supplier sudah bisa terbayar. Suatu hal yamg tak saya sangka. Saat itu kembali saya disadarkan, kalau Allah berkenan memberi rizki, dengan mudah saja Ia berikan.
Pada tahun 1992, seseorang tiba-tiba menawarkan sebidang tanah seluas dua hektar di Bogor. Awalnya, saya sempat pikir-pikir, apa gunanya. Tapi kembali saya merenung, barangkali Allah mau menguji saya, mampukah saya mengambil manfaat dari tawaran tanah itu. Akhirnya tanah itu saya beli. Pada tahun 1993 saya dirikan Panti Yatim Piatu.
Pada tahun itu pula saya dapat membuka cabang. Padahal, terus terang, saya juga tidak tahu dari mana uangnya. Saya juga heran, kok bisa. Padahal baru dua tahun saya terkena musibah. Agaknya itu yang Allah janjikan, kalau engkau dekat dengan-Ku, Aku lebih dekat. Ternyata cabang Tip Top itu pesat perkembangannya. Pada tahun 1999 kami membuka cabang di kawasan Tangerang. Insya Allah pada tahun 2001 kami akan membuka satu atau dua cabang lagi. Di setiap cabang itu, kami tetap menegakkan prinsip awal, yaitu supermarket berjiwa Islami.
Terhadap suppiler dan pembeli, sikap jujur tetap saya utamakan. Itu merupakan modal pokok usaha. Supplier mensuply barang puluhan milyar. Bagaimana mungkin mereka percaya, kalau saya tidak jujur. Pernah pula datang seorang pembeli yang mengeluhkan harga barang kami. Menurutnya, ternyata di tempat lain, ada barang serupa dengan harga lebih murah. Boleh jadi kami tertipu, “tertidur” atau pedagang lain berusaha men-cut prinsip kami. Setelah kami cek dan benar harga di sana lebih murah, kami kembalikan selisih harganya kepada pembeli itu.
Kini, kami mulai mempunyai anak-anak angkat, mereka ingin bergerak di bidang usaha ini tapi tidak tahu caranya. Mereka kami bimbing, tanpa memperhatikan unsur komersialnya. Kalau sudah berkembang, kami lepas. Sekarang sudah ada beberapa yang sudah bisa dilepas. Bahkan sudah membuka cabang-cabang mini marketnya.
Kami berusaha tetap eksis di Indoensia ini. Tentunya nanti akan lebih banyak lagi ”serbuan” pesaing yang masuk, setelah AFTA 2003. Tapi, insya Allah kami bisa menghadapi itu. Dan saya yakin seyakin-yakinnya, Allah akan melindungi usaha-usaha yang diridloi-Nya.
Ke depannya, cita-cita saya, saya sangat ingin membuka supermarket di dekat Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.
Sekali lagi, saya sangat bersyukur, orang tua menganut Islam yang baik dan mengupayakan saya demikian juga. Yang saya sayangkan mereka keburu berpulang, dan belum sempat menikmati hasil kerja keras dan rizki Allah pada saya. Saya belum sempat menyenangkan mereka. Tapi Allah sudah memutuskan. Saya hanya bisa berdoa, mudah-mudahkan mereka mendapat tempat layak di sisi-Nya.
Kini, saya mempunyai generasi penerus, putra-putri saya. Insya Allah usaha ini akan jatuh ke tangan yang benar. Jangan sampai goyah membawa prinsip Islam dalam perjalanan selanjutnya. Saya optimis, Insya Allah, usaha-usaha apapun, termasuk swalayan yang berada dalam koridor Islam, akan dapat berkembang terus.
Seperti dikisahkan Bapak Rusman Maamoer,
pendiri Swalayan Tip Top, kepada Tarbawi.

Sumber : http://safeourlife.info/node/84

Semoga Bermanfaat,

Salam Cinta Secinta-cintanya

(^_^)
SYAIFUL PUTRA
www.syaifuljourney.blogspot.com Baca Selengkapnya!