Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

6 Sep 2009

Tragedi Istana Pasir (Realita Dunia Para Karyawan)

Waktu kecil aku sangat suka main di kali, selain sekolah dan malam hari aku dan teman-teman sekampung selalu menghabiskan waktu di pinggir kali. Kami sangat senang karena kali di kampung kami airnya sangat jernih dan sejuk,banyak ikannya (karena ikan di kali tidak boleh ditangkap kecuali dua tahun sekali, untuk menjaga kelestarian alam), selain itu dulu waktu aku masih kecil kali di kampung kami seperti pantai karena kalinya cukup luas dan banyak pasir putihnya (tapi terakhir pasirnya ditambang dan diexploitasi oleh orang yang menurut saya tergolong serakah).


Waktu kecil kami selalu menghabiskan waktu di pinggir kali, tidak hanya anak-anak tapi orang dewasa pun sama dengan kami, bedanya hanyalah kami di sana bermain sedangkan orang dewasa bekerja, mereka bekerja di ladang yang terletak di pinggir kali, selain itu orang-orang dewasa juga ada yang ngangon (gembala) sapi dan kambing di padang rumput di pinggir kali.

Kami para anak-anak sangat senang mandi dan bermain pasir, banyak hal yang kami perbuat dengan pasir. Adakalanya kami perang bola pasir, ada juga yang menimbun badan dengan pasir, salah satu yang paling favorit adalah membuat istana pasir. Kami berlomba membuat istana pasir seindah mungkin, ada yang menghiasi istana bikinannya dengan bunga, ada yang mengukirnya (seperti relief candi). Namun istana-istana yang kami buat selalu runtuh kalau bukan karena luapan air kali, istana kami rontok karena pasirnya kering disengat matahari.


Akhir tahun 2008 aku kembali mengalami kenangan waktu kecil itu, Aku yang sedang menikmati enaknya bekerja di perusahaan besar, tiba-tiba “istana pasirku” runtuh diterjang PHK massal. Ini bukan hanya kisah saya sendiri saya yakin jutaan orang Indonesia lainnya pernah kehilangan “istana pasirnya” bahkan mungkin istana pasir mereka jauh lebih indah dari pada yang saya punya. Tragedi istana pasir ini adalah realita kehidupan para TdB (tangan di bawah), employee (kuadrant kiri) atau apalah namanya, apalgi yang kontrak.


Seperti yang dikatakan Einsten, bahwa “orang gila adalah orang yang berkali-kali melakukan hal yang sama dan mengharapkan hasil yang berbeda” . Menurut saya kalupun tidak gila saya hanya tidak ingin seperti anak kecil yang selalu berulang kali membangun istana dari pasir basah setiap kali istanya itu hancur diterjang luapan kali atau disengat panas matahari. Makanya saat “istana pasir” saya yang berwujud gaji besar dan berbagai tunjangan yang membuat saya merasa aman hancur, saya tidak mau lagi membangun istana dari pasir, saya memutuskan keluar dari zona nyaman sebagai seorang karyawan. Yup… saya memutuskan untuk memulai usaha kecil-kecilan, walaupun masa transisi ini terasa sangat berat.


Syaiful Putra

Artikel Terkait



Widget by Hoctro | Jack Book

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Possitive coment please!